Thursday, February 02, 2017

Saat Hari Itu Datang

Aku akan mengamini
Di Stockholm,
Massachussets,
Prancis....

Dan akan kusemai padang bunga
Yang coraknya membentuk pita selamat datang

Tanda persahabatan

Kepada para sahabat, teman, kenalan, bekas, dan bakal anak panah
yang
menghunus ke dada

Saat hari itu datang

Dunia akan tersenyum lembut

Pesta itu akan digelar  santun
Tanpa anggur
Yang ada hanyalah

Musikku, alunan piano lembut dan

Rebana

yang mendayu


Monday, May 09, 2016

Wednesday, March 30, 2016

Monday, March 07, 2016

The Dyers of The Hearts of Platina, Silver, and Bronze

When she started the mission along with Aria, Sinbad never knew that this was how it felt to be incompetent, dull, and without the helps of our parents. Sometimes she feels envious towards her very comrade (since they assign each other's lives on the safety raft together, which seemed to be deliberate-incidentally matched by The Great Inventor-GIself), since what she saw in her heads were rather a totally different dreams compared to hers. If you please, Aria's head is colorful; she saw the winds as pink shades of the sun's part ray of light, where she could take advantage technologies merely as tools and marketing games, along with all of its overdue romance in Vivaldi's four season symphony.

... While on the other head, Sinbad chose the different roles, the roles she could not imagine to live without: the sacredness of information, numbers---if you please--- numbers are behaving as humans, full of will and cunningness, rage, and sometimes, reluctance... to be discovered. Universe shall remain mysterious, according to Sinbad, with a little bit of leaking here and there, just to console one mind's about some (ridiculous) persistence of discovering it.

Let the narrator tell you what these two girls are doing. This journey that we call our quest took place inside the world called The Opylus Universe, where in our casual human being customs, Aria and Sinbad are taking their second level of High School. Aria and Sinbad come from the Land of Antaranusa, where their tradition in studying comprises of :

1. The journey with boats towards their choices of academic subjects;
Example of Case : Sinbad, she wants to study mathematics, physics, and sufisms; therefore, because the Land of Antaranusa has collaboration with The Cape of Marrakech in overall general teaching, Sinbad (and automatically, the entire second level high school students whose age minimum 58 years old in human being's metric age system)would have to sail to the cape and then lives inside the ashramas (dormitories) for students there. Because her choice of subjects are different to Aria's, she may or may not live inside the same dormitory.

2. Once arrive at The Cape, they will directly, bythemselves, these students, go towards each of their teacher of subjects' offices and study there. Usually, each teacher will handle about 30-50 students (well you see--- The Land of Antaranusa is rather vast, if not very--- hence they produce many, the narrator means to say it, many students).

(3. The narrator shall complete the other tradition when he remembers it better, later) Oh yeah, the dormitories are separated for boys and girls.

Well. As what we expect to usually happen with large numbers, you know, in this case, large numbers of students, we are also talking about large expenses (either from and to the body of education itself). The narrator would take an example, the boat that we are embarking on in this very story.

Sinbad and Aria, they don't have their family come from those people with very money. This means a gigantic boat, which in their case, also home (for this journey will end in 3 months) to some other 50 students, about 12 teachers who are also the maitres-du-bateau, 

Thursday, January 28, 2016

Saturday, January 09, 2016

Fenomena Fransoa 'L'Enfant Terrible' di Indonesia

Bagaimana jika memang apa yang dilakukan Fransoa, lebih dari sekedar
menyemarakkan dunia entertainment Indonesia di tahun 2015 saat seseorang mulai melihatnya?
Kita dapat mengganti seseorang menjadi minimal 500.000 viewers yang melihatnya dari
Youtube saja.
Fransoa si anak nakal, disebut nakal karena dia, yang sedang berjalan-jalan dengan kostum Prancisnya dan terlihat begitu mirip dengan Cedric Villani dari jauh itu, mengamati
(menikmati) pemandangan di kampung di Indonesia ini , I can imagine that he would have
been thinking in French first, dan baru kemudian menuangkannya dalam Bahasa Indonesia.

Dalam versi orang Indonesia, keingintahuan anak ini, atau bagaimana dia begitu terpukaunya dengan pemandangan di lingkungan sekitarnya, diterjemahkan sebagai suatu tindakan yang ‘nakal’.
Seperti apa yang pernah terlintas di benak penulis saat mulai berinteraksi dengan kebudayaan Prancis (mempelajari bahasanya, tinggal di dalamnya, dan berinteraksi dengan penduduknya), maka di sinilah kiranya perbedaan habit itu terpampang, sebagai contoh, yang muncul di antara bagaimana penulis, yang notabene (pernah) terbiasa dengan lingkungan keindonesiaan, menggambarkan bagaimana dia melihat sebuah objek di hadapannya. Misalnya,
pemandangan hamparan padang rumput di Payakumbuh.
Penulis, jika dia sedang berpikir dalam Bahasa Indonesia, bisa dengan spontan memainkan saluangnya mungkin, sambil bertasbih menyebut nama Tuhannya--- semuanya dalam Bahasa Indonesia.
Namun penulis dapat membayangkannya saat berusaha mengkomunikasikan apa yang
dilihatnya dalam bahasa Prancis, entah karena keterbatasan kosa kata yang ada atau
bagaimana biasanya penulis mendengar

Bahasa Prancis mengkomunikasikannya, dia akan dengan sontak menggambarkan
bagaimana lekuk rumput di padang rumput itu, bagaimana warnanya, bagaimana langit di atasnya, bagaimana terasa udaranya, berapa banyak sapi yang dia lihat...
Dan ketika penulis dengan dua buah bahasa itu menuangkannya dalam sebuah puisi, atau
sebuah lagu, atau suatu karya apa pun itu tentang padang rumput itu, dalam masing-masing bahasa, kita bisa mengingatnya bahwa kedua cara pandang tersebut dimiliki oleh sebanyak
orang yang berbahasa masing-masing itu pula.
Demikianlah kita melihat bagaimana warna-warna dalam suatu bola kebudayaan dan pada akhirnya, bola peradaban, terbentuk.

Saturday, December 26, 2015

Cahaya Mataku

Najma adalah hadiah terindah dalam hidupku dari Allah SWT. Namanya secantik orangnya, Najma Sofia. Matanya begitu dalam dan jernih, mata ayahnya. Ketika dia lahir, dia seperti datang dari dunia lain. Aku mempunyai angle saat kufoto dia dari jarak yang sangat dekat ketika dia sudah dibawa pulang ke rumah Fontaine Michalon, sekitar 3 minggu mungkin setelah kelahirannya. Mata itu seperti alien, kata ayahnya.

Dia akan memanggilku Maman dan memanggil Uda Ayah. Umur dua bulan setengah, dia sudah bisa bercanda-canda dengan penuh arti dan mulutnya mengucapkan kata ‘Ayah’. Tawa Najma seriang bayi yang didepict dalam lukisan-lukisan sebagai malaikat kecil bersayap sejauh yang bisa kubayangkan. Tawa yang jernih seperti kicauan anak burung, terkadang jahil, manja, terkadang genit.

Najma anak yang kuat, baik hati, pintar, sholehah. Wajah cantiknya, kuharapkan menjadikannya anak yang percaya diri namun tidak berlebihan ataupun sombong. Kami akan membawanya pulang ke Padang dan Bandung dan mungkin juga Yogyakata musim panas tahun 2016.


Anakku sayang, terima kasih sudah mengajarkan Maman banyak hal. Maman sudah lama menanti-nantikan saat seperti ini, untuk bisa mengatakannya kepadamu walaupun lewat tulisan saat kamu belum bisa berbicara dengan bahasa yang Maman pahami. Semoga Maman bisa menjadi Ibu yang membanggakan dan melegakan hati Najma. Ingatlah Najma, di manapun Maman berada, Najma adalah Cahaya Mata Maman.